Tiga Hari di Sydney

Tak pernah terbayang gue bakal menginjakkan kaki di benua Australia tahun ini. Selalu ada rencana ke sana, tapi entah kapan akan diwujudkan. Syukur alhamdulillah, akhir Juni kemarin dapat undangan kerjaan ke Sydney. Senang setengah mati.

Urus ini itu dokumen dilakukan oleh pihak pengundang. Gue tinggal terima beres. Hehehe. Enak sih, namun pengen ngerasain ngurus dokumen perjalanan sendiri. Hari yang ditunggu datang juga. Kamis selepas pulang kantor gue berangkat menuju bandara. Penerbangan Jakarta – Sydney menggunakan Garuda Indonesia. Rute yang baru dirilis oleh maskapai nasional Indonesia ini cukup oke jamnya. Berangkat dari Jakarta 23:45 dan sampai di Sydney pukul 09:30. Selama perjalanan kita bisa tidur sesuai jam biologis. Seandainya menggunakan penerbangan ini untuk liburan, setibanya di Sydney bisa langsung check-in ke hotel tanpa perlu menunggu cukup lama.

Durasi penerbangan Jakarta – Sydney adalah 6 jam. Sebagai traveler awam yang biasanya terbang paling lama empat jam, gue sempat agak tergganggu. Beberapa kali terbangun dari tidur trus badan capek karena duduk terus. Meh! I’m whinny. Tapi so far penerbangan mulus. Dapat makan. Meskipun telinga agak kurang nyaman karena waktu itu gue agak pilek. But, hell, suck it up, San. You’re about to explore Sydney.

Hari pertama
Sampai bandara dijemput oleh perwakilan dari Destination NSW atau dinas pariwisatanya negara bagian New South Wales. Tempat Sydney berada. Gw mengutak-utik arloji. Mencocokkan dengan waktu setempat yang 3 jam lebih cepat (di musim panas, perbedaan waktu jadi empat jam). Sopir membawa gue ke hotel Marriott Sydney di Circular Quay. Penginapan gue selama di Sydney. Udara siang itu cerah. Anginnya dingin, namun tidak menusuk tulang. Gue masih bisa jalan-jalan pakai kaos tanpa perlu dilapisi jaket. “Well, nice weather. Hope this is gonna be a lovely trip,” kata gue kepada orang dari Destination NSW.

Setelah kelar check-in, kita makan siang di sebuah restoran Cina di dekat hotel. Nothing special about the food. It was just an ordinary lunch. “Okay. After this we’re going to Taronga Zoo,” ujar Donna, perwakilan Destinations NSW dengan logat British-nya yang cukup kental. Untuk menuju Taronga Zoo ada dua pilihan. Naik bus atau naik feri. Opsi kedua lebih cepat dan bisa dilakukan melalui Sydney Harbor yang terletak hanya selemparan batu dari hotel gue. Tak sampai 5 menit berjalan kaki, kita sudah sampai di Sydney Harbor. Pemandangannya: Sydney Opera House yang tersohor itu. Tanpa aba-aba, gue langsung mengambil foto diri dengan background gedung ikonik tersebut. Kapan lagi, cing? Selama ini lihat cuma melalui televisi doang. Hahaha.

Ke Taronga Zoo ini, kita ternyata tidak menggunakan perahu feri pada umumnya. Namun menggunakan Water Taxi. Biayanya dihitung AUS$70 untuk empat orang pertama, tapi kalo mau lebih dari empat orang, penumpang kelima dan seterusnya kena biaya AUS$10. Jadi sebenernya makin banyak makin murah. Tapi tetep murah naik kapal feri yang biayanya sudah termasuk dalam harga tiket kebun binatang (AUS$44/orang dewasa) yang bisa dibeli secara online. Lagipula jarak antara pelabuhan hingga Taronga Zoo tak begitu jauh.

Namanya juga kebun binatang, isinya ya….binatang. Pastinya lebih rapi, lebih bersih, dan lebih bersahabat dibandingkan kebun binatang Ragunan. Setelah turun dari kapal, pengunjung akan diajak menaiki kereta gantung menuju starting point di atas. Ini karena letak kebun binatang di lereng bukit. Kami diajak melihat satu per satu satwa penghuni Taronga Zoo mulai dari koala, kanguru, hingga burung Emu. Menarik. Tapi gue lebih tertarik dengan pemandangan kota dari Taronga Zoo ini. Amazing! Apalagi ketika matahari terbenam, kota Sydney terlihat sangat indah dari sini.

Setelah matahari kembali ke peraduaannya, kita menuju Sydney Opera House. Gedung pertunjukan ini sedang ramai-ramainya karena sekarang Jumat malam–saat bagi penduduk Sydney nongkrong–dan di sekitaran Sydney Harbour sedang digelar festival seni Vivid Sydney. Sepertinya nyaris semua anak muda Sydney tumplek di wilayah tersebut. Di opera house, kita diajak mengintip backstage dan persiapan pertunjukan. Seru sih.

Setelah berkeliling, kami bersiap untuk kembali ke hotel. Dan ternyata di luar, SUHUNYA TURUN DONG SODARA-SODARA. Mungkin sampe angka 15 derajat celsius. Namun suhu segitu biasa banget bagi orang Sydney. Mereka pada asyik nongkrong di Opera Bar and Kitchen; semacam foodcourt stylish outdoor gitu. Gue sudah terlalu lelah untuk ikutan gabung di situ. Gue lebih memilih balik ke hotel dan memesan in-room dining. F O R E V E R A L O N E.

IMG_5741

IMG_5754

IMG_5808

IMG_5812

Hari kedua
Besok pagi, sarapan trus cabut ke Madame Tussaud di Darling Harbour. Mainstream banget ya? Tapi ya it’s okay lah. Gue udah pernah ke Madame Tussaud yang di Bangkok dan Hong Kong, jadi gak ada salahnya mampir ke sini. Beberapa anggota rombongan terlihat gembira, gue memilih untuk duduk-duduk di pier sambil merokok dan menikmati pemandangan warga-warga lokal yang lalu lalang. Sebagian terlihat memberi makan burung-burung camar. Segelas kopi ada di tangan untuk menghangatkan diri. Suhu di Ibu Kota New South Wales kali ini dingin meskipun udara cerah. Mungkin pengaruh hujan semalam.

Setelah selesai dari Madame Tussauds, dilanjutkan ke SEA Life Sydney Aquarium tepat di sebelah museum. Gue senang karena melihat ikan dan banyak sekali anak-anak kecil yang minta dibawa pulang. Gemes! Di akuarium raksasa ini terdapat 60 tangki. Isinya kurang lebih 650 spesies laut dan air tawar mulai dari platypus hingga hiu. Kurang paus aja ini mah.

Untuk makan siang, kami mencoba Mr. Wong, restoran yang katanya lagi happening banget di Sydney. Restoran ini basisnya kuliner Cina. Letaknya tersembunyi di sebuah gang. Namun restorannya ala bintang lima gitu (meskipun bukan fine dining). Desainnya apik menempati sebuah bangunan tua yang dulunya mungkin gedung perkantoran. Makanannya enak, pelayanannya dan atmosfernya menyenangkan. Me likey.

Setelah makan siang, Sydney diguyur hujan deras. Agak kesal karena yang pasti menggangu perjalanan kami. Tujuan selanjutnya adalah Westfield. Salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Sydney. Para ibu-ibu kalap di sini, sedangkan gue tetep mencari toko sepatu. Kali aja ada yang lucu. Hehehe. Setelah menunggu ibu-ibu belanja dan gue menghabiskan secangkir kopi (lagi), akhirnya kita melanjutkan ke wahana selanjutnya yaitu Skywalk di Sydney Tower Eye. Letaknya pas ada di atas Westfield. Di sini, kita akan menyaksikan Sydney dari ketinggian. Kita disuruh untuk memakai jumpsuit khusus dan dilarang membawa barang apapun seperti jam tangan, kamera, ponsel, dan lain sebagainya. Semuanya disimpan di loker. Sementara itu, di luar hujan. Gue udah parno dengan suhu dingin. Setelah persiapan kelar, kita dibawa keluar. Tali-tali pengaman dikaitkan ke rel khusus, kemudian kita menyusuri pagar tersebut. Beberapa orang peserta yang mengidap fobia ketinggian berkomat-kamit membaca doa sambil beberapa menolak untuk melihat ke bawah. Hal yang sebenarnya susah dilakukan mengingat jalanannya agak sempit dan kita berada di ketinggian 260 meter. Hujan semakin deras mengguyur. Gue merapikan jaket. Beberapa orang berteriak-teriak ketakutan diterpa angin yang kencang. Kocak. Akhirnya kita sampai ke balkon utama dengan lantai terbuat dari kaca. MATI! Gue yang agak-agak fobia ketinggian mulai keder juga. Namun pemandunya berkali-kali mengingatkan bahwa kontruksi bangunan ini cukup kuat dan aman. Rasa tenang perlahan-lahan datang lagi. Keadaan cuaca yang semakin buruk tak memungkinkan bagi kami untuk mengambil gambar (oleh petugas) dan berada di luar ruangan lebih lama lagi. Akhirnya kita sudahi uji nyali tersebut. Ada rasa puas, kecewa, kedinginan bercampur aduk menjadi satu. Kecewa karena tidak bisa maksimal melihat kota Sydney dari ketinggian.

Untuk menutup kekecewaan kami, Destination NSW membawa kami ke Sydney Tower Buffet di gedung yang sama. Hanya turun dua lantai dari dek observasi tadi. Di sini makan malam disajikan prasmanan dan restorannya berputar 360 derajat menawarkan pemandangan kota Sydney–kali ini tanpa khawatir terjatuh maupun masuk angin.

IMG_5841

IMG_5850

IMG_5859

IMG_5877

IMG_5933

Hari ketiga
Di hari ketiga, hujan makin menjadi. Udara dingin menyerang sejak pagi ditambah gerimis yang terus membasahi jalanan Sydney. Untung jadwal hari ini tak padat. Perjalanan dimulai dari Museum of Contemporary Art. Iya, gue milih yang deket dari hotel. Letaknya sama di Sydney Harbour situ juga. Udah lah ya, sok ngerti lah gue melihat-lihat koleksi seni. Some are interesting, some are, I don’t know. Hahaha. Tapi serunya di sini banyak keluarga atau ayah-anak yang duduk atau berdiri di dekat sebuah karya seni terus membahas arti dari karya tersebut. Bonding time yang mungkin susah banget dicari di Indonesia. Di Indonesia bapak-bapak ngajarin anaknya kekerasan, gak mau antri, dll. Hahaha. Trus abis itu makan siang di Bondi Beach. Sekalian melihat seperti apa sih Bondi Beach ini. Kalau musim panas, mungkin makan siang di sini akan tidak menyenangkan karena penuh dengan pengunjung. Tapi kala itu, restoran North Bondi Italian Food sedang sepi. Sesepi pantai Bondi yang dinginnya minta ampun. Namun setelah kami duduk, restoran ini jadi penuh pengunjung dalam waktu singkat. Tak heran, ternyata makanan yang disajikan sangat enak. Mulai dari appetizer hingga makan utama sangat tasty, apalagi dessert-nya.

Setelah selesai makan siang. Hujan sempat berhenti sebentar sebelum akhirnya mengguyur kota Sydney dengan lebatnya. Dengan sebuah mobil sewaan yang membawa kami ke Bondi, kami menembus lebatnya hujan, meninggalkan pantai tersohor itu ke wilayah Sydney Harbour. Kok kembali lagi ke sana? Iya, akhirnya kami sepakat untuk menghabiskan hari di The Rocks. Wilayah turis yang deket dengan Marriott, tempat kami menginap, agar mudah pulangnya. Sore itu kami habiskan dengan menjelajah kota tua Sydney tersebut: menelusuri setiap gang, mampir ke museum kecil di situ, lalu terdampar di sebuah kafe mini untuk menikmati kopi.

Sydney menyenangkan meskipun kita hanya ke sebagian kecil wilayahnya. Kami juga tidak mencoba angkutan umumnya. Tapi bus dan kereta apinya sangat tertata rapi. Saatnya kita kembali ke hotel dan mengemasi barang bawaan guna meneruskan perjalanan ke Port Stephens dan Hunter Valley. Tunggu di postingan gue selanjutnya ya!

IMG_5887

IMG_5977

IMG_5990

IMG_6004

IMG_6156

IMG_6165

IMG_6178

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: