What Ifs

“Mas, aku nanti kuliah jurusan apa ya?”

Adik gw membuka percakapan via telepon. Tahun ini dia sudah memasuki kelas tiga SMA. Percakapan tersebut dilakukan ketika sekolahnya sudah mulai membuka pendaftaran Undangan (istilah PMDK atau jalur khusus siswa berprestasi sekarang). Sama seperti gw dan kakak gw, adik gw gak pinter matematika ataupun pelajaran sains lainnya. Kami lebih kuat di bahasa dan pengetahuan sosial. Nilai bahasa Inggrisnya terakhir menyentuh angka 8,7. Nilai impresif untuk siswa di sebuah kota kecil di mana bahasa Inggris mungkin lebih banyak digunakan untuk memahami tulisan ingredients di kemasan makanan ketimbang untuk percakapan sehari-hari.

“Kamu mimpi mau jadi apa?”
I just wanna be a successful person
Define successful. Mimpi kamu terlalu luas”
“Gak tau…”
“OK gini aja. Mimpi kamu satu: bekerja sesuai dengan hobi namun dibayar mahal”

Hingga akhirnya obrolan ini berkembang menjadi lebih serius.
Gw mungkin salah satu orang yang gak percaya dengan perkataan: “Terima aja. Udah takdirnya.” Bener. Takdir memang tidak bisa diubah, namun nasib bisa. Itu yang selalu gw yakini. You will find the way as long as you work your ass off.

Dulu gw punya cita-cita: harus kerja di dunia hiburan (atau lifestyle). Nekat merantau ke Jakarta. Meniti karir di dunia jurnalisme gaya hidup. Awal karir mengais rezeki sebagai reporter infotainment. Hingga sekarang bisa menjadi Editor di sebuah majalah ternama.

“Hidup itu tak selalu mulus. Semakin susah prosesnya, semakin bagus pribadi kamu terbentuk.”
Itu yang gw ajarkan ke adik gw. Gak ada sesuatu yang instan di dunia ini. Bahkan masak indomie aja perlu proses. Kadang suka miris sama temen-temen kuliah gw yang dulu salah satu mahasiswa/i paling pintar berakhir menjadi pegawai honorer di sebuah perusahaan jasa.

“Kenapa lo gak pindah aja ke Jakarta. Mengejar karir di sana?”
“Males, San. Jakarta macet.”

Belum juga dijalani sudah kalah dengan hal-hal yang (mungkin) cuma menantang dia untuk keluar dari comfort zone. Mungkin mereka juga tak berani mimpi besar lalu mewujudkannya. Kata temen gw, semua yang duniawi itu bisa diraih. Asalkan diiringi keyakinan dan usaha yang terus menerus.

Bayangkan, apa jadinya bila gw gak nekat ke Jakarta? Apa jadinya bila gw gak berani bermimpi? Apa jadinya kalo gw gak belajar lebih giat? Mungkin saat ini gw hanya jadi PNS berkarir biasa-biasa aja di kampung halaman gw yang jam makan siang bisa pulang buat makan di rumah. Hehehe.

Menutup pembicaraan dengan adik gw: “Semua dimulai dengan mimpi. And then work really hard to make it come true.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: