Kena Macet? Oh, Well!

Udah berapa lama tinggal di Jakarta, San? 10 tahun.
Udah berapa lama pakai angkutan umum di Jakarta? 10 tahun juga.

Pada tahu kan kalau kemacetan Jakarta sudah tidak masuk akal lagi? Gak pagi, gak siang, gak malam macet di mana-mana. Lalu kenapa tidak menggunakan angkutan umum?

Melalui tulisan ini, saya cuma ingin berbagai mengenai pengalaman 10 tahun menggunakan angkutan umum di Jakarta. Dari segelintir keluhan di atas, hanya beberapa di antaranya benar. Rumah saya dulu di Mampang. Jalur neraka yang selalu macet. Dibutuhkan waktu berapa lama dari rumah ke kantor di kawasan Sudirman? Kalau lancar hanya 15-20 menit. Kalau macet? Minimal 1,5 jam. Dan lebih sering macet ketimbang lancar.

Makanya saya memanfaatkan bus TransJakarta. Dengan bus TransJakarta, saat ini waktu tempuh hanya 45 menit. Itu sudah termasuk antre. Tiga tahun silam, waktu tempuh masih di atas satu jam karena armadanya sedikit.

Saya heran dengan orang yang rumahnya, let’s say, Mampang-Ragunan dan berkarya di kawasan Kuningan atau Sudirman tapi bawa mobil. Menembus kemacetan Mampang saban hari memerlukan waktu kurang lebih satu jam. Itu hanya di area Mampang ya. Belum kalo ada macet lagi di kawasan lainnya.

Kenapa gak naik bus TransJakarta aja?

“Ah, waktu waktu tempuhnya sama dengan naik mobil pribadi”
“Ah, berdesakan. Nanti bau keringat.”
“Ah, ribet!”

Sayangnya, mereka hanya mencoba satu kali lalu (memutuskan untuk) kapok. Naik bus TransJakarta butuh pola. Butuh rencana. Butuh jadwal. Gw masuk kantor jam 9, tapi udah berangkat jam 6.15 (paling telat jam 7). Kok pagi amat? Katanya cuma butuh waktu 45 menit? You need to see the whole picture. Kalau berangkat pagi, kemungkinan untuk desak-desakan sedikit. Armada masih banyak. Hence, minus bete karena kaki keinjek atau karena berdiri di dekat orang yang bau badan.

Untuk ke kantor, ada dua pilihan: menumpang TransJakarta AC602 atau bus TransJakarta reguler. Pilihan pertama lebih simple karena tidak mengharuskan saya untuk pindah kendaraan sampai kantor. Pilihan kedua, memaksa saya untuk turun di Halte Depkes kemudian jalan kaki hingga depan Manhattan Hotel lalu naik angkot 44 sampai depan kantor. Kedua rute membutuhkan jalan kaki dengan jarak yang sama. Uniknya, masing-masing rute ditempuh dengan durasi yang mirip: 45 menit! Kenapa gak ke Dukuh Atas lalu pindah ke Jalur I jadi ga perlu bayar angkot? Jauh. Ke Dukuh Atas kudu pake acara muter ke Menteng dulu.

Teori di atas jelas mematahkan anggapan bahwa naik mobil pribadi lebih cepat. Lalu gerah dan berdesakan. Berdesakan iya, namun gerah tidak terlalu. Kadang saya berangkat ke kantor pake kaus dulu, sebelum nanti ganti kemeja. Apalagi belakangan ini banyak armada baru dengan AC yang dingin. Pun tidak bau.

Beberapa bulan yang lalu saya pindah ke BSD. Ceritanya sekarang tinggal di rumah sendiri. Nah kali opsi angkutannya agak tricky. Pertama gak mungkin naik shuttle bus atau mobil pribadi karena males kena macet. Kedua lokasi rumah agak jauh dari stasiun. Tapi akhirnya pilihan jatuh kepada KRL sebagai alat transportasi sehari-hari ke pusat kota dikombinasikan dengan ojek. Dengan cara ini, dari BSD ke pusat kota (vice versa) bisa ditempuh dengan waktu 45-60 menit. WARBIYASAK kan? Bayangkan kalo naik mobil sendiri.

Tapi naik angkutan umum kan ribet.

Iya, nanti kalo naik angkutan umum ribet gak bisa nongkrong lalu pulang malam. Tapi kan ada taksi? Saya selalu kalo nongkrong dan pulang malam ya naik taksi. Mahal? Konsekuensi lah. Mau seneng-seneng sama temen ya harus ada pengorbanan. Kalau lagi pelit, saya sih biasanya naik taksi hingga stasiun atau halte TransJakarta (biasanya beroperasi hingga jam 11 malam).

Lalu apa alasan naik angkutan umum, San?

Jalur dari rumah ke kantor cukup simpel. Kedua, less stress. Saya paling gak tahan kejebak macet di dalam mobil. Rasanya pengen loncat keluar karena saya punya klaustrofobia ringan. Bayangin kalo udah kena macet berjam-jam di jalan sebelum sampai kantor, otak pasti udah capek padahal belum memulai kerjaan. Seringnya malah uring-uringan seharian.

Saya pake mobil hanya pas weekend. Makanya kenapa orang maksa pakai mobil padahal pergi seorang diri jika jalur yang dilewati memiliki angkutan umum yang memadai (seperti Mampang dan BSD, misalnya)? Apakah karena gengsi sudah beli mobil tapi gak dipakai? Saya sih mending berdesak-desakan sebentar dengan para pengguna lainnya, namun sampai kantor otak masih segar. Kadang masih bisa colongan tidur lagi sebentar (meskipun kenyataannya lebih sering langsung kerja).

Tulisan ini tak ada maksud menggurui, toh kena macet ya risiko masing-masing. Namun, gak ada salahnya mencoba angkutan umum yang semakin layak (well kecuali metromini sama kopaja) jika kawasan tempat tinggal kalian dilewatin moda transportasi tersebut untuk ke kantor.

Kalo emang mau bertahan dengan mobil pribadi, ya boleh. Tapi gak boleh ngomel-ngomel ya, because you’re the traffic.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: